Pabbote’

By. Lamuni’

penipuIstilah pabbote’ mungkin tidak begitu populer di kalangan penutur bahasa bugis yang baik dan benar. Tetapi di kalangan selainnya, istilah pabbote’ sering kali digunakan (entahlah apakah istilah ini merupakan bahasa bugis yang baku). Pabbote’ adalah kata ganti orang, yang ditujukan kepada mereka yang memiliki perilaku suka berbohong, menipu, mengelabui dan melakukan segala macam tipu muslihat untuk mencapai tujuan. Singkat kata, pabbote’ adalah contoh konkrit dari perilaku yang sangat buruk dan merugikan orang lain. Pabbote’ sebetulnya berasal dari kata bote’ yang secara sederhana berarti bohong. Di kampung saya –parepare-, ketika saya masih kecil dulu,entah bagaimana awalnya, istilah pabbote’ juga dikenakan kepada mereka yang suka mengambil minyak tanah yang tercecer dari mobil tangki pertamina (apa hubungannya ya???). Saya tidak tahu, mengapa istilah tersebut bisa diberikan. Pabbote’ juga dikenakan kepada mereka yang kerjanya menipu orang. Misalnya, dua orang bersekongkol (bekerjasama) melakukan kegiatan mabbote’ dengan cara satu orang menjadi penjual dan yang lainnya berpura-pura menjadi pembeli. Keduanya mendatangi calon korbannya. Ketika dia menawarkan barang dagangannya, datanglah temannya yang seolah-olah tidak saling mengenal, berpura-pura ikut membeli. Pada saat itulah terjadi transaksi pura-pura, dan kalau orang tidak waspada, sang korban bisa tertipu hingga mengalami kerugian. Kepada mereka itulah dikenakan istilah pabbote’. Bagaimana dengan keadaan sekarang? Ada ujarnya-ujarnya orang tua-tua, katanya: Iya makokkowe tau ibote’emi de’ gaga, meganngi pabbote’e. (Sekarang ini, orang yang akan ditipu saja yang tidak ada, yang kebanyakan ditemukan adalah orang-orang yang suka menipu). Apakah telah terjadi krisis kepercayaan? Faktanya? Kita sekarang memang sering dibote’. Orang yang tadinya kita anggap baik, bersih dan dengan serta merta pula kita menaruh harapan padanya, eeehh malah tiba-tiba masuk penjara. Mereka ternyata pabbote’. Adalagi yang orang berkedudukan baik, merupakan tokoh masyarakat, sering masuk TV, eehhhh tiba-tiba ketahuan selingkuh. Kitapun dibote’. Jujur saja, saya mulai meragukan banyak pihak (tidak adaji orang saya sebut toh??), soalnya perilaku pabbote’ juga mengikuti trend perkembangan zaman dan menggunakan teknologi digital. Keberadaannya pun menggunakan trik-trik yang mirip virus komputer (sebut saja virus bote’), sehingga keberadaannya sulit ditebak, dan tahu-tahu kita sudah dibote’. Bahkan dalam beberapa pemberitaan terakhir di media , justru antivirusnya pun, yang seharusnya membasmi para tukang pabbote’ diduga malah telah terindikasi sebagai virus bote’ juga. Lalu? Kepada siapa lagi kita menaruh harapan? Entahlah. Jika menilik sejarah, Nabi Muhammad saw., memang telah mewanti-wanti bahwa untuk terciptanya kemaslahatan, maka hindarilah (Mabbote’). Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa: ada seseorang yang sepanjang hidupnya penuh dengan perilaku jahat. Suatu saat dia menghadap kepada baginda Rasulullah saw., dan menyatakan mau bertobat. Hanya masalahnya dia tidak bisa denga serta merta meninggalkan seluruh perilaku jahatnya. Ketika Nabi saw, mendengar hal tersebut, Nabi pun setuju, dan menyampaikan bahwa dia boleh melakukan semua kegiatan jahatnya tersebut tetapi dengan satu syarat, “Jangan berbohong ”. Dengan senang hati (dan dipikirnya: oh alangkah mudahnya), orang itupun bergegas pergi dan berjanji untuk tidak berbohong. Tetapi alangkah tercengangnya dia, ketika dia akan melakukan perilaku jahat, dia kemudian bimbang dan selalu berpikir. Wah bagaimana ini, kalau saya melakukan kegiatan jahat, kemudian di tanya oleh Rasulullah tentang perkembangan tobatnya, apa yang harus dijawabnya? “Kalau aku jujur, saya kan malu, soalnya semua orang tahu kalau saya sudah bertobat”. Mau berbohong, juga tidak mungkin, karena dia sudah berjanji untuk tidak berbohong. Akhirnya diapun sadar bahwa tidak mungkin lagi dia berperilaku jahat terus, kalau dia berjanji untuk tidak berbohong lagi.

Karenanya, untuk menegakkan kemaslahatan dan membangun bangsa dari keterpurukan, hanya satu kuncinya: HILANGKAN MENTAL PABBOTE’, YANG MUATANNYA PENUH DENGAN TIPU MUSLIHAT, BERSELIMUT KEBOHONGAN, DIBUNGKUS DENGAN KELICIKAN, DIKEMAS DALAM KARDUS KEPURA-PURAAN, DAN DIANTAR OLEH KURIR KEMUNAFIKAN.

Tapi???

Kita mulainya dari Mana???

KITA MULAI SAJA DARI DIRI KITA SENDIRI.

Setuju?????????

2 responses to this post.

  1. Betul itu pak, hrus dmulai dari ksadaran diri sendiri. tp bsji PTT (pabote tipis-tipis) bukan pabote tingkat tinggi toh? Hehe

    Balas

  2. Posted by orangbugis on 7 Mei 2009 at 5:12 AM

    Besok lusa saya terindikasi Mabbote’ kita’ tegur laloka’ nah???. Kalau mabbote’ tipis-tipis….dan sering…sering..kan akhirnya jadi pabbote’ loppo. hehehhe

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: