“Puang Ngaji”

Saya tidak bermaksud melakukan plecehan atau mengejek dengan sebutan “Puang Ngaji”. Tulisan ini semata-mata ingin merefleksikan apa yang saya rasakan sebagai putra bugis, yang lahir dan dibesarkan di lingkungan budaya dan masyarakat bugis pada umumnya.
Waktu itu, kalau tidak salah saya masih duduk di bangku Madrasah Aliyah (setingkat SMA), tapi kelasnya berapa…. saya lupa. Saya diajak ke suatu acara pengantin untuk kegiatan “Tudang Mappacci”, yang merupakan salah satu tahapan dari tradisi kegiatan pengantin adat bugis, yang biasanya dilakukan di malam hari sehari sebelum hari pernikahan. Tugas saya malam itu adalah membaca barazanji sebagai bagian dari acara mappacci.
Yang kemudian membuat saya selalu menoleh adalah sebutan “Puang Ngaji” yang sering saya dengar di sela-sela pembacaan barazanji. lapat-lapat saya dengar “Enre’ki’ Puang Ngaji”, maksudnya terus ke bagian atas -bagian atas itu adalah tempat khusus yang biasanya disiapkan untuk orang-orang/tamu/keluarga yang istimewa-. Sayapun menoleh, dan pemandangan yang saya lihat bahwa yang dipanggil “Puang Ngaji” itu adalah seorang Ibu setengah baya, nampak kalau dia adalah bangsawan, kaya, dan sudah menunaikan ibadah haji. Pakaiannya sangat gemerlapan, memakai pakaian kebesaran haji, lengkap dengan segala macam perhiasan emas yang berat-berat bergelantungan mulai dari jari, tangan, leher dan telinga. Baju yang dikenakan pun terbuat dari bahan yang mahal-mahal dan saya lihat umumnya transparan. Mereka sangat dihargai dan dihormati. Bahkan yang punya hajat berdiri menyambut sambil berbungkuk-bungkuk.
Lalu saya menoleh kepojok lain, agak sudut, saya lihat seseorang -yang kemungkinan besar- bukan bangsawan dan belum haji duduk bersama dengan ibu-ibu lain. Saya melihat kadang-kadang mereka saling berbisik. Mungkin mereka kagum dengan “Puang ngaji” yang gemerlapan tadi, pikirku. Yang menjadi lucu -menurut saya- pada kegiatan tersebut adalah ketika salah seorang anggota keluarga kemudian mulai mendata siapa-siapa saja yang akan melakukan kegiatan mappacci. Saya pikir, kemungkinan saya akan mendapat kesempatan untuk melakukan kegiatan mappacci, ternyata salah. Mereka yang didata dalam daftar itu adalah para “Puang Ngaji” yang hadir. Dan setelah cukup, kegiatan pun dimulai. Malam itu, yang mappacci hanyalah yang “puang ngaji”.
Fenomena di atas selalu menarik perhatian, bahwasanya status sosial itu ternyata masih menempati posisi yang sangat penting dalam pandangan masyarakat bugis. Orang-orang bugis masih memandang hal-hal yang bersifat material sebagai sesuatu yang menentukan dalam kehidupan. Bangsawan, kekayaan, dan status sosial lainnya masih menjadi hal-hal terdepan dalam kehidupan. Dan hebatnya, Tidak ada yang protes.
Dalam masyarakat bugis, hal tersebut telah menjadi semacam konvensi bahwa mereka yang memiliki status sosial “bawah” memang harus menerima kenyataan atas diri mereka atas mereka yang memiliki ststuas sosial “atas” tersebut. Para “Puang Ngaji” memiliki hak yang lebih besar dibanding mereka yang bukan bangsawan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: